Berumur 74 tahun justru tidak
menghalangi langkah seorang Duta Besar Republik Indonesia untuk kerajaan Maroko,
H. Tosari Widjaja, untuk pertama kalinya mengukir sejarah baru dengan meraih
penghargaan tertinggi dari Kerajaan Maroko. Tepatnya hari jum’at lalu, 17
Oktober 2014. Penghargaan berupa BINTANG GRAND CORDON AL WISSAM AL ALAOUI tertinggi tersebut disematkan langsung oleh
Raja Maroko sekarang ini, HIS MAJESTY KING MOHAMMED VI kepada H. Tosari Widjaja
di hadapan para pejabat-pejabat kerajaan dan para duta besar undangan dari
negara-negara lain. Ajang bergengsi tersebut disiarkan oleh channel TV 2M
Maroc. Kepribadian bapak berkelahiran Probolinggo ini yang begitu gigih, ulet,
kerja keras dan Ikhlas bersama “DREAM TEAM”nya Para Home/local Staff dan
segenap pegawai yang bekerja di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Rabat
dalam menjalankan tugas dan mengemban amanah negara menjadikannya sosok yang
pantas untuk menerima penghargaan bergengsi tersebut. Anugerah Penghargaan
tersebut sekaligus merupakan hadiah di penghujung masa jabatannya ini.
Paman Terbaikku
Selasa
7 tahun yang lalu
Nun jauh di
lampu merah Sp. Jambotape, kelihatan seorang pemuda yang umurnya hampir
berkepala empat. Setelan kemeja hitam, celana hitam yang agak lusuh, dan si
Shogun SP-nya yang tua serta helm yang mirip milik serdadu belanda dulu
membuatnya terlihat begitu “matching”. Setetes keringat yang mau mengalir dari
dahinya mengambarkan betapa teriknya siang itu. Dia membonceng 2 orang anak SD
di belakangnya. 2 anak itu ialah abang-adik, sang abang kelas 6 SD, dan adik kelas
3 SD. Mereka berdua adalah keponakannya.
Setiap hari
sekolah, rasa tanggung jawabnya mengantar 2 bocah ini ke rumah mereka di Ulee
kareng begitu besar. Tak peduli seterik apapun panas atau sederas apapun hujan
hari itu, shogun hitam tetap meluncur. Terkadang sepeda motor itu hampir
terpeleset saat belok di tikungan karena ban depan yang semi botak.
Sehari-hari, dia bekerja sebagai pegawai tata usaha (TU) di MtsN Model Banda Aceh. Wataknya yang
sangat jujur dan idealis, menjadikannya dipercayakan sebagai bendahara sekolah.
Orang yang memegang gaji seluruh pegawai dan guru yang hitungannya 100 juta-an.
Tak jarang sang istri mengkhawatirkan bila dirinya pulang ke rumah terlambat,
takut jika ia dirampok oleh orang-orang yang telah lama mengintainya selama ini.
Label:
Inspirasi
Lokasi:
Rabat, Morocco
Sebuah Catatan di Penghujung April
Minggu
Sesaat setelah kututupi Mushaf Al-Quran, tiba-tiba pikiranku
terbang jauh ke Masjid Baitusshalihin Ulee Kareng. Masjid ini sekarang masih
dalam tahap renovasi. Masjid tempatku mulai secara resmi belajar mengaji
Al-Quran sejak aku kelas 1 MI. Masjid ini juga menjadi saksi tatkala aku
ditasyakur sebagai wisudawan Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) tahun 2003 kalau
tak salah. Sebenarnya ketika itu aku berniat melanjutkan pengajianku ke tahap
yang lebih tinggi yaitu, Ta’limul Quran Lil Aulad (TQA), tapi karena pada akhir
tahun 2004 aku bersama keluarga harus meninggalkan Aceh untuk sementara waktu,
menemani ayah di negeri jiran yang sedang menyelesaikan kuliah S3-nya. Niat itu
pun pupus di tengah jalan.
Banyak pengalaman
yang aku dapati sewaktu mengaji di masjid tersebut, mulai dari Ustazah Marhamah
yang memberitahuku bahwa harus me’niat’kan wudhu saat mulai membasuh wajah
sampai saat dimana aku harus berulang kali mengulang bacaan hafalan surat
Al-Ikhlas di depan Ust. Daniala, S.Ag ketika ujian kenaikan tingkat. Tapi,
sampai sekarang aku belum mengerti tentang kesalahan-kesalahan bacaan yang dimaksud
oleh Ust Danil pada surat Al-Ikhlas tersebut.
Label:
Auto-Biography,
Cerita,
Kehidupan
Menulis itu tak Mudah
Sabtu
Hari itu, Sabtu, 13 September 2014 merupakan hari yang paling
bermakna dalam hidupku. Hari itu juga aku sadar bahwa menulis itu tak semudah
yang dibayangkan. Menulis bukan hanya menuangkan kata-kata yang terbersit dalam
benak pikiran. Bukan berarti di saat anda memiliki begitu banyak makna dan
hikmah yang mau dicurahkan, lantas semua itu bisa anda rangkai indah dalam
kalimat-kalimat bahasa Indonesia yang tepat dan benar serta sesuai EYD. Menulis
itu memerlukan latihan yang bukan hanya satu dua kali saja. Menulis itu bukan
sebuah keterpaksaan atau ikut-ikutan yang lain. Menulis bukan karena anda telah
membaca puluhan bahkan ratusan buku. Menulis adalah rasa ingin berbagi apa yang
terlintas di benak pikiran anda. Menulis adalah proses menarik perhatian
pembaca terhadap apa yang anda tuangkan. Menulis adalah proses menghibur para
pembaca dengan gaya bahasa dan rangkaian kata-kata. Menulis adalah bagaimana
cara anda menyihir para pembaca sehingga mereka tidak akan melakukan kegiatan
lain sebelum menelan habis tulisan anda. Ketika anda mulai menulis, tulisan
anda itu juga harus siap untuk dikritisi, dikoreksi, bahkan ditendang dan
dibuang jauh. Namun, Anda tidak hatus pesimis ketika mulai menulis. Mulailah
sesuatu dengan bismillahi. Karena akan ada kekuatan besar yang menyertai niat
tulus anda tersebut.
Kayanya Buah-Buahan di Maroko
Minggu
Maroko, adalah negara
yang tergolong memiliki tanah dan pertanian tersubur di benua Afrika. Padahal
yang terbayang di benak pikiran saya sebelum berangkat ke sini setahun yang
lalu, Maroko adalah negara yang penuh dengan padang pasir, tandus, kering, dan
orang-orangnya berkulit hitam seperti negara-negara di benua Afrika lainnya,
seperti Mauritania, Mali, Gabon, Niger dll. Nah, Bayangan saya tersebut
bertolak-belakang 90 derajat dengan kenyataan yang saya dapati di sini. Faktanya,
Pertanian dan perkebunan benar-benar kehijau-hijauan dan subur hampir seperti
di Indonesia dan orang-orangnya berkulit putih, percampuran Arab dan Eropa.
Di tulisan ini, saya ingin mengulas ketertarikan saya pada
negeri yang dikenal dengan sebutan “seribu benteng” ini dari sisi
suburnya tanah pertanian, terutama buah-buahan. Berbagai jenis buah-buahan
dijual dengan harga obral di tempat-tempat umum, seperti pasar, pinggiran
jalan, di halaman masjid. Variasi buah-buahan tersebut tergantung kepada Musim.
Khususnya pada musim panas ini, mulai dari buah Dellah (melon kuning), Bettih
(Semangka), Bnan (Pisang), Mesymmesh (Sejenis buah apel dari
kulit luar, tapi isi dalamnya mirip mangga), Hablul Muluk (Cherry), ‘Ainab
aswad au akhzor ( Anggur Hitam atau Hijau), Barkhouckh ( buah khas ada Maroko
yang berwarna merah gelap, merah kekuning-kuningan atau Oren). Khusus pada
musim dingin ada jeruk (Burtuqal), strawberry (fraise), apel (tuffah),
Untuk apel warnanya bervariasi, mulai dari hijau, kuning, orange, merah. Harga
– harganyanya sangat murah. Untuk jeruk
harganya bisa turun sangat drastis hingga 2 dh / kg (3 ribuan), Strawberry bisa
begitu murah juga dengan harga terendahnya sekitar 4 dh / kg (6 ribuan), dan
Apel bervariasi harganya sesuai warna dan kualitas. Harganya terendah bisa jadi
sekitar 5 dh / kg (7 ribuan). Disebabkan maroko memiliki 2 bahasa resmi yaitu
arab dan prancis, maka tak begitu heran jika hal tersebut berdampak pada
penamaan buah-buahan di maroko ini sendiri.
Lokasi:
Kenitra, Morocco
Uniknya Islam di Negeri Matahari Terbenam
Selasa
Maroko, Negeri seribu benteng yang telah kami
diami 7 Bulan lebih. Tepatnya pada tanggal 23 september 2013 yang lalu jam
08.45 pagi kami menginjakkan kaki di tanah afrika utara ini. Kedatangan kami ke
negeri matahari terbenam ini adalah untuk melanjutkan studi S1 di berbagai
Universitas yang terdapat di Maroko. Untuk saat ini, jumlah mahasiswa Indonesia
yang berada di negeri ini masih sangat minim, lebih kurang 100-an.
Orang
Persia dan Urdu menyebut Maroko dengan sebutan Marrakesh yang berasal dari
bahasa barbar “Mur dan Akush“ yang berarti Tanah
Tuhan. Marrakesh menjadi ibukota Dinasti
Al-Murabithun pada tahun 1062-1157 M.
Orang Turki menyebut Fez, Kota pertama yang dibangun oleh Muhammad Idris
yang merupakan cikal-bakal berdirinya Pusat pemerintahan Dinasti Idrisiyah. Maroko
juga disebut Al-Maghrib mengacu pada awal penyebaran islam, bahwa
negara-negara Maghrib mencakup Tunis, Libya, Algeria, dan Maroko yang disebut
dengan Al-Maghrib Al-Aqsa. Hingga saat ini maroko disebut dengan
“Al-Mamlaka Al-Maghribiya”. Bahasa Resmi Maroko adalah Bahasa Arab, selanjutnya
bahasa Perancis dan bahasa Amazigh (bahasa suku Barbar). Sedangkan bahasa lokal
Maroko yaitu Darijah (arab dialek maroko).
Lokasi:
Sale, Morocco
Di Persimpangan Jalan menuju Kampus
Minggu
Pagi itu cahaya matahari berhasil menembus
ventilasi jendela sebuah rumah di kawasan Camra. Namun, gang-gang kecil di
sekeliling rumah itu masih basah dan berair akibat hujan di malam harinya. Rumah
itu telah ditempati selama 4 bulan lebih oleh beberapa Mahasiswa asal
Indonesia. Salah satu dari mereka bernama Faris. Ia keluar dari rumahnya dengan
tenang dan santai. Cuaca di luar masih dingin, padahal matahari telah
memperlihatkan diri seutuhnya. Faris ialah seorang mahasiswa jurusan Dirasat
Islamiyah di Universite Mohammed V – Agdal. Tak terasa, beberapa hari lagi
genap setengah tahun sudah dia menuntut ilmu di negeri seribu benteng, Maroko. Negeri
yang dulu tak pernah terbersit di dalam benak pikirannya. Kampusnya terletak di
Madinat al-‘irfane, yang bisa dicapai hanya dengan berjalan kaki dari rumahnya
selama sepertiga jam.
Setelah berjalan beberapa belas langkah di gang depan rumahnya, dia pun berbelok ke kanan.Tepat 20 meter di depannya, ada sebuah masjid tempat biasanya dia melaksanakan perintah Allah 5 kali sehari, Masjid Sidi ‘Ilal ibn Ahsayin namanya. ukurannya sedang, warnanya putih, atapnya berbentuk persegi dan berwarna hijau tua serta ada menara khas Maroko berwarna krem kecoklat-coklatan di bagian pojok bangunannya. Setiap habis shalat berjamaa’ah, di depan pintu masjid biasanya sudah berdiri para pengemis, 2 atau 3 orang jumlahnya, tak jarang dari mereka ada yang mengendong anak kecil. Kata sebagian ahli jama’ah masjid, di antara para pengemis itu, ada yang berpura-pura tidak mampu dan ada juga yang benar-benar membutuhkan bantuan. Para Penjual buah-buahan dengan harga murah seperti buah jeruk, apel, kurma, avokad juga berjejeran berteriak-teriak menarik perhatian para jama’ah yang baru keluar dari masjid untuk membeli barang dagangan mereka.
Setelah berjalan beberapa belas langkah di gang depan rumahnya, dia pun berbelok ke kanan.Tepat 20 meter di depannya, ada sebuah masjid tempat biasanya dia melaksanakan perintah Allah 5 kali sehari, Masjid Sidi ‘Ilal ibn Ahsayin namanya. ukurannya sedang, warnanya putih, atapnya berbentuk persegi dan berwarna hijau tua serta ada menara khas Maroko berwarna krem kecoklat-coklatan di bagian pojok bangunannya. Setiap habis shalat berjamaa’ah, di depan pintu masjid biasanya sudah berdiri para pengemis, 2 atau 3 orang jumlahnya, tak jarang dari mereka ada yang mengendong anak kecil. Kata sebagian ahli jama’ah masjid, di antara para pengemis itu, ada yang berpura-pura tidak mampu dan ada juga yang benar-benar membutuhkan bantuan. Para Penjual buah-buahan dengan harga murah seperti buah jeruk, apel, kurma, avokad juga berjejeran berteriak-teriak menarik perhatian para jama’ah yang baru keluar dari masjid untuk membeli barang dagangan mereka.
Label:
Cerita
Lokasi:
Rabat, Morocco
Langganan:
Postingan (Atom)