7 tahun yang lalu
Nun jauh di
lampu merah Sp. Jambotape, kelihatan seorang pemuda yang umurnya hampir
berkepala empat. Setelan kemeja hitam, celana hitam yang agak lusuh, dan si
Shogun SP-nya yang tua serta helm yang mirip milik serdadu belanda dulu
membuatnya terlihat begitu “matching”. Setetes keringat yang mau mengalir dari
dahinya mengambarkan betapa teriknya siang itu. Dia membonceng 2 orang anak SD
di belakangnya. 2 anak itu ialah abang-adik, sang abang kelas 6 SD, dan adik kelas
3 SD. Mereka berdua adalah keponakannya.
Setiap hari
sekolah, rasa tanggung jawabnya mengantar 2 bocah ini ke rumah mereka di Ulee
kareng begitu besar. Tak peduli seterik apapun panas atau sederas apapun hujan
hari itu, shogun hitam tetap meluncur. Terkadang sepeda motor itu hampir
terpeleset saat belok di tikungan karena ban depan yang semi botak.
Sehari-hari, dia bekerja sebagai pegawai tata usaha (TU) di MtsN Model Banda Aceh. Wataknya yang
sangat jujur dan idealis, menjadikannya dipercayakan sebagai bendahara sekolah.
Orang yang memegang gaji seluruh pegawai dan guru yang hitungannya 100 juta-an.
Tak jarang sang istri mengkhawatirkan bila dirinya pulang ke rumah terlambat,
takut jika ia dirampok oleh orang-orang yang telah lama mengintainya selama ini.
Hari demi hari
berjalan, bulan demi bulan berlalu, dan tahun demi tahun seolah bergerak cepat,
waktu terus berlanjut. Si bocah besar sekarang sudah duduk di kelas 3 Mts,
begitu juga dengan adiknya yang duduk di kelas 6 SD. Bulan itu Agustus 2009,
bulan yang menjadi saksi bisu diwisudanya Ayah kedua abang-beradik itu. Sang
ayah yang telah lama mengorbankan rasa rindu kepada anak-anaknya yang terpaksa
ditinggalkan di Aceh selama ia menyelesaikan studi doktoral-nya, jurusan
Pendidikan Sains di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Karena ketiadaan ayah
dalam beberapa tahun terakhir itulah yang menyebabkan peralihan tanggungjawab
ke si paman. Terutama dalam hal kelangsungan pendidikan anak-anak itu, baik
sebagai pengantar-jemput sekolah, wali ketika pengambilan rapor, bahkan bisa
jadi tempat mereka berdua menagih uang jajan.
Di mata mereka
berdua, pamannya itu berkarakter pendiam, bicara hal-hal yang penting saja,
tidak humoris, dan asyiknya tidak pernah mengeluh. Terkadang sang bocah mencoba
bercanda ringan. Namun, responnya yang begitu dingin mengurung niatnya untuk
mengulang candaan di masa yang mendatang. Di balik kemisterian karakter yang
melekat di jiwanya, ternyata masih ada sifat-sifat baik yang tersembunyi,
seperti gigih, tekun, penyayang, pekerja keras, dan tanggung jawab yang lambat
laun baru disadari oleh bocah-bocah itu.
Ada satu sifat
lain yang aneh tetapi disenangi oleh anak-anak kecil yang menempel pada paman,
pemurah hati. Tepatnya di saat hari raya idul fitri tiba, Sang paman selalu
memberikan Tunjangan Hari Raya (THR) dalam jumlah besar jika dibandingkan
dengan yang lain. Selembar uang merah sering keluar dari dompetnya untuk
keponakan yang tertua, sedangkan keempat adiknya itu hanya kebagian lembaran
biru dan hijau.
Senyum yang
jarang tersungging dari bibirnya bukan berarti ia sedang marah atau kesal,
melainkan itulah ciri khas raut wajahnya. Hal itu menambah rasa penasaran,
takut, segan, dan hormat dari dalam diri kedua keponakannya itu. Tapi dalam
rentang waktu yang lama, pernah sekali bibirnya terhias dengan sebuah senyuman
, senyuman yang telah lama dinanti. Rasa senang, terharu, bahagia, dan terkejut
bercampur menjadi satu dan menghinggap di relung hati mereka. Keindahan dan kedamaian senyuman sang paman
melebihi indahnya susunan kata para novelis, melampaui serasinya gubahan bait
pantun sang penyair, dan melewati merdunya suara sang penyanyi india.
Awal september
2009, rasa bahagia dan terharu menghiasi suasana hati abang-adik karena
kepulangan ayahnya dari negeri jiran. Ayah pulang dengan berbagai buah tangan
yang menjadikan wajah si istri dan anak-anak begitu berseri-seri dan bola mata
yang berbinar-binar. Di saat yang sama, tiba-tiba terbersit rasa sedih yang
mencekam ketika sadar mereka harus berpisah boncengan dengan paman mulai saat
itu. Berpisah dengan pelukan hangat ketika hujan deras di bawah mantel.
Teringat juga ketika dua tangan abang harus menggenggam sisi kiri dan kanan
mantel biru tua itu. Mantel yang tersimpan di bawah jok shogun SP, siap sedia
bila tiba-tiba hujan datang menerkam. Tak jarang tangan abang kebas dan lelah
karena kelamaan memegang tepi benda itu menahan air hujan. Namun, rasa itu
hilang seketika saat sepeda motor paman berhenti, pertanda mereka sudah di
depan pagar rumah. Mantel itu menyatukan tiga zat hidup dan satu zat mati,
shogun SP hitam. Menyatu bak bersatunya ikan dengan air, burung dengan udara,
dan manusia dengan oksigen. Bukan bagai air dan minyak yang tak akan menyatu
walau disatukan.
Nah, perasaan
kehilangan muncul lagi ketika paman berniat meninggalkan sepeda motor itu.
Ceritanya bermula ketika .....
To be Continued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar