Pages

Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Prof. Ali Hasjmy, Ujian Akhir Madrasah, dan al-Quran

Jumat


Jum'at, 3 Juni 2016.

Al-Quran, beberapa hari terakhir ini perasaan malas membacanya menyerangku. Aku ragu, aku takut perkataan mereka itu ada benarnya, menghafal doktrin, kaku, buang-buang umur saja. Tapi entah kenapa, ketika membaca buku Semangat Merdeka karya Prof. Ali hasjmy, aku menemukan cuplikan kisah menarik, membangkitkan lagi semangat yang hampir sirna. Ternyata, Beliau juga merasakan sesuatu yang sama. It's an extraordinary sense, guys. Berikut kutipanku darinya, halaman 68-69.

Prof. Ali Hasjmy berkisah " Waktu kami dijebloskan dalam penjara kolonial Padang Panjang, saya telah duduk di kelas tiga Sanawiyah Madrasah Thawalib, dan tiga bulan 5 hari lagi akan 'ujian akhir'. Suatu perlakuan yang saya anggap zalim, yaitu tidak diperbolehkan untuk saya memasukkan ke dalam penjara buku-buku pelajaran atau buku-buku bacaan lain yang ada hubungan dengan pelajaran madrasah saya.

Masa belajar untuk kelas tiga sanawiyah hanya dua bulan lima belas hari lagi dan masa persiapan untuk ujian akhir ditetapkan duapuluh hari. Untuk teman-teman di luar penjara ketentuan-ketentuan tersebut dapat dilakukan dengan wajar, tetapi bagi saya yang dalam penjara tentu tidak. Bukan saja tidak dapat mendengar pelajaran yang diberikan para Ustaz, membaca kitab pelajaran pun tidak mungkin, karena saya diasingkan juga dari kitab-kitab yang saya perlukan itu. Satu-satunya bacaan yang dibolehkan masuk, yaitu Al Quranul Karim.

Selama tiga bulan dalam penjara kolonial Padang Panjang, yang pada waktu malam dinginnya tidak terkatakan, sedang kami tidak dibolehkan memasukkan selimut tebal, cukup dengan kain sarung tipis, saya hanya membaca dan memahami Al Quranul Karim sampai berkali-kali tamat. Itulah satu-satunya persiapan saya untuk menghadapi 'ujian akhir' setelah lima hari nanti ke luar dari 'Sorga Pergerakan' (baca : penjara).

Pada suatu pagi hari Rabu, setelah tiga bulan kami dipisahkan dari masyarakat ramai, pintu penjara dibuka untuk ke luar dan kami dapati di depan 'Sorga Pergerakan' itu beratus-ratus teman pemuda, putera dan puteri, telah menunggu kami dengan mengucapkan tahmid dan takbir : Alhamdulillah, Allahu Akbar !

Bersama-sama mereka kami menuju ke kantor HPII Wilayah Padang Panjang.

Lima hari kemudian, hari Senin, saya bersama teman-teman menghadapi ujian akhir. Sekalipun tidak diberi kesempatan untuk belajar selama tiga bulan, namun saya berhasil menyelesaikan ujian dengan baik, bahkan saya termasuk dalam kelompok 'tujuh orang' yang lulus istimewa. Ini adalah berkat Al Quranul Karim yang dalam waktu tiga bulan say abaca dan pahami sampai tamat beberapa kali.

Syukur Alhamdulillah, dalam kelompok 'tujuh orang' yang lulus istimewa, saya berada dalam deretan nomor dua, yang susunannya demikian : Nasaruddin Latif, terakhir pegawai tinggi pada Departemen Agama, A.Hasjmy, Teungku Abdul Jalil, terakhir Kepala Kantor Urusan Agama Aceh Tengah, Dahlan Ibrahim ( bekas Menteri Veteran), Uzeir Hayat ( saya tidak tahu sejarahnya kemudian ) dan dua orang lagi saya tidak ingat lagi. "

          Kawan, sungguh ini Keberkatan Al-Quran. Hadiah bagi mereka yang jasadnya terpasung, hatinya tersakiti dan jiwanya didzalimi. Kemuliaan mereka tumbuh bersama al-quran. Jauh dari apa yang didengung-dengungkan oleh kaum liberal dewasa ini, bahwa ia sebatas teks agama biasa, seperti  teks agama-agama lainnya. Tidak, ia mukjizat. Penenang hati yang sedang gundah-gulana. Seyogyanya, setiap manusia beriman berangkat dari titik itu. Titik awal saat mereka ingin menyusun rencana-rencana besar. Agar tak berakhir dengan penyesalan. 

Read more ...

Bertalaqqi Al-Muwattha Imam Malik

Sabtu


Membangkitkan kembali semangat belajar terkadang sangat perlu, terlebih lagi ketika ujian semester sudah di ambang pintu. Kembali sibuk bergulat dengan dunia kamus dan bercumbu dengan muqarrar (modul kuliah). Meringkas dan menghafal rangkuman sebagian kitab karangan ulama-ulama muslim, untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan misterius saat ujian nanti. Seperti itulah sebagian besar aktifitas mahasiswa dirasat islamiyyah di negeri seribu benteng ini. Saya kira aktifitas ini tak jauh berbeda dengan teman-teman yang sedang menuntut ilmu di negeri seribu menara, mesir dan negara-negara tetangganya. 

Beberapa hari lalu, tepatnya hari jum'at. Kami ingin me-refresh kembali semangat belajar yang mulai rapuh dan luntur. Karena itu, sore hari, kami berniat mengikuti pengajian kitab al-Muwattha karya Imam Malik, demi mendapatkan segayung siraman ruhani. Tapi sebelumnya, kami menunaikan shalat jum'at di masjid KBRI Rabat.  

Read more ...

Seorang Dubes

Selasa
Berumur 74 tahun justru tidak menghalangi langkah seorang Duta Besar Republik Indonesia untuk kerajaan Maroko, H. Tosari Widjaja, untuk pertama kalinya mengukir sejarah baru dengan meraih penghargaan tertinggi dari Kerajaan Maroko. Tepatnya hari jum’at lalu, 17 Oktober 2014. Penghargaan berupa BINTANG GRAND CORDON AL WISSAM AL ALAOUI  tertinggi tersebut disematkan langsung oleh Raja Maroko sekarang ini, HIS MAJESTY KING MOHAMMED VI kepada H. Tosari Widjaja di hadapan para pejabat-pejabat kerajaan dan para duta besar undangan dari negara-negara lain. Ajang bergengsi tersebut disiarkan oleh channel TV 2M Maroc. Kepribadian bapak berkelahiran Probolinggo ini yang begitu gigih, ulet, kerja keras dan Ikhlas bersama “DREAM TEAM”nya Para Home/local Staff dan segenap pegawai yang bekerja di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Rabat dalam menjalankan tugas dan mengemban amanah negara menjadikannya sosok yang pantas untuk menerima penghargaan bergengsi tersebut. Anugerah Penghargaan tersebut sekaligus merupakan hadiah di penghujung masa jabatannya ini. 

Read more ...