Maroko,
sebuah negara yang terletak di pinggiran laut Mediterrania. Negara yang kaya
daratan geografis. Mulai dari kota salju, Ifrane di daerah timur kota Fez dan
Oukeimeden di Marrakesh, sampai provinsi yang terbentang hamparan gurun pasir sahara,
di daerah Ouarouazate (baca: Warwazat). Dari kampung halaman sang pengelana dunia,
Ibnu Battutah di kota Tanger sampai masjid terbesar ke-7 di Dunia, Masjid
Hassan Tsani, yang dibangun pada tahun 1993. Uniknya, mesjid ini dibangun di pinggiran
pantai yang mengarah ke samudera atlantik, di kota Casablanca. Pesona tataran
keindahan alam menjadikan negara ini tak pernah sepi di kunjungi para turis
dari manca negara.
Di negeri ini, para ulama islam moderat dilahirkan,
sebut saja nama Ibnu ‘Asyur, Fatimah Mernisi, Dr. Taha Abdurrahman, Dr. Ahmad
Raisuni, Dr. Faruq Hammadah. Merera semua para ulama dunia terkemuka di
bidangnya pada abad belakangan ini. Maroko, sejak dulu terkenal dengan negara
yang bertaburan mutiara-mutiara filsuf islam. Salah satunya Imam Syatibi dengan
master-piecenya kitab Al-Muwafaqaat.
Ada yang mengatakan kitab ini salah satu pondasi dasar yang turut berandil
besar dalam berkembangnya ilmu maqashid syari'ah di era modern ini.
Setiap tahun mulai 2009, Kerajaan
Maroko melalui Agence Marocaine de Cooperation Internationale memberikan 15 kuota beasiswa bagi Indonesia
untuk jatah perguruan tinggi, baik level
sarjana, master, maupun doktoral. Alhamdulillah, saya termasuk di dalamnya yang
mendapatkan jatah pada tahun 2013.
Negeri matahari terbenam ini merupakan
salah satu pusat pangkal penggabungan pemikiran islam dengan barat, sehingga
pembahasan tentang filsafat islam,
aqidah, dan usul fiqh lebih sering ditemukan di bangku universitas, khususnya
dalam koridor kajian islam.
Menariknya, di sini, kerajaan
mensubsidi penuh biaya pendidikan mulai dari level Sekolah Dasar (SD) sampai ke
Penguruan tinggi level Doktoral (DR). Jenjang pendidikan di negeri asal Dalailul
Khairat ini hampir mirip dengan sistem jenjang pendidikan di Indonesia.
Lebih tepatnya, jenjang pendidikan disini di bagi menjadi, Raudhah
selama 1-2 tahun, Madrasah Ibtidaiyyah 6 tahun, Madrasah I'dadiyyah 3
tahun, Madrasah Tsanawiyyah 2 tahun, Program Baccalaureat 1
tahun, sedangkan untuk jenjang perguruan tinggi ada, Licence 3 tahun, Master
2 tahun, Doktoral 3 tahun. Semua
jenjang pendidikan tersebut, bebas biaya pendidikan. Terkadang cuma ada biaya
kecil untuk administrasi pendaftaran, hal tersebut sangat wajar.
Yang disubsidi penuh tersebut adalah
sekolah kerajaan umum (seperti sekolah negeri di Indonesia). Sasaran utama
subsidi tersebut adalah seluruh lapisan masyarakat kelas ekonomi bawah,
menengah ke bawah, dan menengah. Sedangkan untuk masyarakat kelas ekonomi
menengah ke atas dan atas, kerajaan menyediakan sekolah dan lembaga pendidikan
swasta yang berbayar tinggi, serta dilengkapi dengan kurikulum yang lebih
bermutu dan berkualitas agar serasi dan seimbang dengan bayarannya.
![]() |
| Gedung Kementerian Pendidikan Nasional Kerajaan Maroko |
Sekolah-sekolah swasta biasanya
dikenal dengan sisipan kata Private atau Privee pada nama
sekolahnya. Misalnya Abdul Malek Ecole Privee atau Abdul Malik
Private School. Sekolah-sekolah tersebut biasanya memakai sistem bayaran
per bulan, tingkat SD saja bisa mencapai jutaan rupiah per siswa. Untuk
perguruan tinggi, ada universitas swasta yang sangat bergengsi dan paling mahal
yaitu Al-Akhawayn University, tempatnya anak-anak pejabat kerajaan dan
para bos perusahaan di maroko menuntut ilmu. Bayaran per semesternya juga
mencapai angka ratusan juta rupiah. Universitas Al-akhawayn dibangun pada 1995,
dan Al-Akhawayn sendiri berarti '2 bersaudara' yang dinisbatkan kepada Raja
Fahd dari Arab Saudi dan Raja Hassan II dari Maroko.
Bahkan,
ada sebagian mahasiswa teman saya yang berasal dari pedesaan dan perkampungan
di daerah gurun sahara, bisa mendapatkan subsidi berupa transportasi gratis
untuk akses dan melanjutkan pendidikan ke ibukota dan kota-kota besar yang
memiliki perguruan tinggi.
Selain penyediaan subsidi transportasi
tersebut, kerajaan Maroko juga membangun asrama (Hay) di setiap kota
yang memiliki universitas negeri. Asrama tersebut berdaya tampung ribuan
mahasiswa. Semua mahasiswa diperkenankan untuk tinggal di asrama secara gratis,
hanya membayar iuran listrik dan air yang tergolong murah. Lebih detail, setiap
asrama tersebut biasanya dilengkapi dengan dapur umum (Math'am Jami'i).
Di sana, mahasiswa bisa memperoleh satu menu makan, baik pagi atau siang, hanya
membayar 1.2 dirham setara hampir 2 ribu rupiah. Padahal, harga satu menu
makanan tersebut bisa mencapai 15 dirham setara 20 ribu rupiah jika dibeli di
luar asrama atau di warung makanan biasa.
Disisi lain, ada beberapa kebijakan
kerajaan untuk memulihkan kembali kondisi keuangan negara akibat subsidi yang
besar di pendidikan tersebut, misalnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Maroko
yang terhitung tinggi jika dibandingkan dengan Indonesia. Perliter-nya mencapai
11 dirham. Jika dikonversikan ke rupiah sekitar Rp. 15.000/liter.
Singkat saya, pendidikan gratis itu
bagus dan menarik, tapi terkadang membuat sebagian anggota masyarakat meremehkannya
dalam arti malas belajar karena tidak mengeluarkan biaya sama sekali. Namun,
alangkah baiknya kalau pendidikan itu murah. Tidak gratis namun bisa terjangkau
oleh semua lapisan masyarakat. Semoga ini menjadi harapan kita bersama dan
kedepannya mudah-mudahan bisa diimplementasikan oleh Pemerintah pusat dan Aceh.
Amiin.
Alhamdulillah, Tulisan penulis ini dimuat di Koran Lokal Aceh, Serambi Indonesia, Edisi 29 Desember 2014. Jika pembaca berminat, dibawah ini disertakan linknya :
http://aceh.tribunnews.com/2014/12/29/maroko-gratiskan-biaya-pendidikan-hingga-s3
Alhamdulillah, Tulisan penulis ini dimuat di Koran Lokal Aceh, Serambi Indonesia, Edisi 29 Desember 2014. Jika pembaca berminat, dibawah ini disertakan linknya :
http://aceh.tribunnews.com/2014/12/29/maroko-gratiskan-biaya-pendidikan-hingga-s3

Tidak ada komentar:
Posting Komentar