Maroko, adalah negara
yang tergolong memiliki tanah dan pertanian tersubur di benua Afrika. Padahal
yang terbayang di benak pikiran saya sebelum berangkat ke sini setahun yang
lalu, Maroko adalah negara yang penuh dengan padang pasir, tandus, kering, dan
orang-orangnya berkulit hitam seperti negara-negara di benua Afrika lainnya,
seperti Mauritania, Mali, Gabon, Niger dll. Nah, Bayangan saya tersebut
bertolak-belakang 90 derajat dengan kenyataan yang saya dapati di sini. Faktanya,
Pertanian dan perkebunan benar-benar kehijau-hijauan dan subur hampir seperti
di Indonesia dan orang-orangnya berkulit putih, percampuran Arab dan Eropa.
Di tulisan ini, saya ingin mengulas ketertarikan saya pada
negeri yang dikenal dengan sebutan “seribu benteng” ini dari sisi
suburnya tanah pertanian, terutama buah-buahan. Berbagai jenis buah-buahan
dijual dengan harga obral di tempat-tempat umum, seperti pasar, pinggiran
jalan, di halaman masjid. Variasi buah-buahan tersebut tergantung kepada Musim.
Khususnya pada musim panas ini, mulai dari buah Dellah (melon kuning), Bettih
(Semangka), Bnan (Pisang), Mesymmesh (Sejenis buah apel dari
kulit luar, tapi isi dalamnya mirip mangga), Hablul Muluk (Cherry), ‘Ainab
aswad au akhzor ( Anggur Hitam atau Hijau), Barkhouckh ( buah khas ada Maroko
yang berwarna merah gelap, merah kekuning-kuningan atau Oren). Khusus pada
musim dingin ada jeruk (Burtuqal), strawberry (fraise), apel (tuffah),
Untuk apel warnanya bervariasi, mulai dari hijau, kuning, orange, merah. Harga
– harganyanya sangat murah. Untuk jeruk
harganya bisa turun sangat drastis hingga 2 dh / kg (3 ribuan), Strawberry bisa
begitu murah juga dengan harga terendahnya sekitar 4 dh / kg (6 ribuan), dan
Apel bervariasi harganya sesuai warna dan kualitas. Harganya terendah bisa jadi
sekitar 5 dh / kg (7 ribuan). Disebabkan maroko memiliki 2 bahasa resmi yaitu
arab dan prancis, maka tak begitu heran jika hal tersebut berdampak pada
penamaan buah-buahan di maroko ini sendiri.
Tepat pada 1 September yang lalu, saya diajak oleh teman asal maroko untuk berjalan-jalan ke kampung halamannya yang terletak di bagian utara Maroko, sekitar 3 jam perjalanan dengan bus dari tempat kami di ibukota, Rabat. Nama daerah tersebut tak lain adalah Dar el jadida, Jem’ah, Suwk el-Arba’a. Daerah tersebut terletak di pertengahan antara kota Kenitera dan kota Tanger. Kami berangkat ke sana jam 8 pagi dari Terminal Bus (Gare Routiere /محطة الطرقية ( Camra dengan tiket 40 dh/penumpang. Kami tiba di terminal bus Suwk el –Arba’a jam 11 pagi. Lalu kami menggunakan Taxi Grong ( Taksi yang tidak berpatokan pada Argo, tapi pada daerah yang dituju) menuju ke desa yang kami inginkan. Pada umumnya harga sekitar 10 dh/penumpang untuk daerah Suwk el Arba’a. Sedangkan kawasan ibukota Rabat, harga Taxi Grong seragam 5 dh/penumpang.
![]() |
| Tanaman Cocow sejenis Kacang di desa Jem'ah, Dar el Jadida, Maroko |
Sesampai di sana, kami diturunkan dekat Jalan masuk menuju desa Dar el jadida tersebut. Awalnya kami ingin dijemput dengan menggunakan keledai yang bergerobak khusus untuk penumpang dan barang-barang bawaan. Tapi tiba-tiba selang beberapa menit kami di jalan itu, datang seorang saudara teman saya mengemudi mobil, Hassan namanya. Dia mengajak kami berbarengan dengan mobilnya ke rumah saudara teman saya itu. di pertengahan jalan, saya sempat melirik ke perkebunan yang terhampar di sisi kanan dan kiri jalan, di sana ada berhektaran tanaman kacang ( Cocow sebutan mereka ), ada juga tanaman dellah (melon kuning), dan tak jarang pula tanaman Bettih (Semangka). Suburnya tanaman-tanaman tersebut terkadang membuat saya sedih ketika mengamati langka dan tingginya harga buah-buahan di Aceh. Kalau di Aceh, jenis buah-buahan anggur, strawbery,dan apel adalah buah-buahan yang tergolong istimewa dan berkelas. Nah, disini buah-buahan tersebut adalah buah-buahan yang merakyat karena bisa dinikmati oleh mereka yang kondisi ekonominya bawah dan menengah.
Setiba di rumah, kami disambut dengan ramah dan senyuman hangat
bak sahabat yang lama tak bersua. Sambutan yang tulus dan murni dari
orang-orang desa ( tidak diselingi dengan berbagai ‘modus’ dibaliknya).
Saya pribadi merasa ada sebagian dari ahli keluarga mereka seakan pernah
bertemu dengan saya sebelumnya dan sama sekali tidak asing. Siang itu, setelah
shalat dhuhur, kami ditawari attai bisyyibah (teh khas Maroko), harsya
( makanan dari gandum yang dibakar mirip roti bakar) , zubdah (keju),
dan buah zaitun hitam sebelum istirahat. Sorenya, kami berjalan-jalan menghirup
udara senja di perkebunan kacang (cocow) dan jagung (dzurrah).
Perkebunan berhektar-hektar yang saya amati itu rupanya hanya milik 1 keluarga
saja. Kehidupan berkebun dan bertani yang begitu damai dan tenang terkadang
membuat saya ingin berlama-lama dan betah tinggal disana. Namun, ada satu
tanaman yang belum saya dapati di negeri ini yaitu padi. Beras yang ada di
maroko pada umumnya adalah beras impor dari Mesir dan Thailand.
Nah, pembawaan dan pemasaran hasil perkebunan dan pertanian
dari desa-desa ini ke pasar-pasar atau kota terdekat hampir keseluruhannya
menggunakan tenaga transportasi hewan, seperti keledai dan kuda yang diikat
dengan gerobak dibelakangnya. Sekitar seminggu saya menghabiskan waktu liburan
saya di desa itu. Semoga secuil pengalaman itu bisa menjadi tolak ukur
pemerintah dan rakyat kita dalam hal pertanian dan perkebunan, khususnya
buah-buahan di Aceh, karena kita butuh rakyat dan anak-anak bangsa yang selalu
sehat dan bergizi.
![]() |
| bersama Sahabat, Khalid dan seekor kuda |


subahanalloh ustad rijal...
BalasHapus