Pagi itu cahaya matahari berhasil menembus
ventilasi jendela sebuah rumah di kawasan Camra. Namun, gang-gang kecil di
sekeliling rumah itu masih basah dan berair akibat hujan di malam harinya. Rumah
itu telah ditempati selama 4 bulan lebih oleh beberapa Mahasiswa asal
Indonesia. Salah satu dari mereka bernama Faris. Ia keluar dari rumahnya dengan
tenang dan santai. Cuaca di luar masih dingin, padahal matahari telah
memperlihatkan diri seutuhnya. Faris ialah seorang mahasiswa jurusan Dirasat
Islamiyah di Universite Mohammed V – Agdal. Tak terasa, beberapa hari lagi
genap setengah tahun sudah dia menuntut ilmu di negeri seribu benteng, Maroko. Negeri
yang dulu tak pernah terbersit di dalam benak pikirannya. Kampusnya terletak di
Madinat al-‘irfane, yang bisa dicapai hanya dengan berjalan kaki dari rumahnya
selama sepertiga jam.
Setelah berjalan beberapa belas langkah di gang depan rumahnya, dia pun berbelok ke kanan.Tepat 20 meter di depannya, ada sebuah masjid tempat biasanya dia melaksanakan perintah Allah 5 kali sehari, Masjid Sidi ‘Ilal ibn Ahsayin namanya. ukurannya sedang, warnanya putih, atapnya berbentuk persegi dan berwarna hijau tua serta ada menara khas Maroko berwarna krem kecoklat-coklatan di bagian pojok bangunannya. Setiap habis shalat berjamaa’ah, di depan pintu masjid biasanya sudah berdiri para pengemis, 2 atau 3 orang jumlahnya, tak jarang dari mereka ada yang mengendong anak kecil. Kata sebagian ahli jama’ah masjid, di antara para pengemis itu, ada yang berpura-pura tidak mampu dan ada juga yang benar-benar membutuhkan bantuan. Para Penjual buah-buahan dengan harga murah seperti buah jeruk, apel, kurma, avokad juga berjejeran berteriak-teriak menarik perhatian para jama’ah yang baru keluar dari masjid untuk membeli barang dagangan mereka.
Setelah berjalan beberapa belas langkah di gang depan rumahnya, dia pun berbelok ke kanan.Tepat 20 meter di depannya, ada sebuah masjid tempat biasanya dia melaksanakan perintah Allah 5 kali sehari, Masjid Sidi ‘Ilal ibn Ahsayin namanya. ukurannya sedang, warnanya putih, atapnya berbentuk persegi dan berwarna hijau tua serta ada menara khas Maroko berwarna krem kecoklat-coklatan di bagian pojok bangunannya. Setiap habis shalat berjamaa’ah, di depan pintu masjid biasanya sudah berdiri para pengemis, 2 atau 3 orang jumlahnya, tak jarang dari mereka ada yang mengendong anak kecil. Kata sebagian ahli jama’ah masjid, di antara para pengemis itu, ada yang berpura-pura tidak mampu dan ada juga yang benar-benar membutuhkan bantuan. Para Penjual buah-buahan dengan harga murah seperti buah jeruk, apel, kurma, avokad juga berjejeran berteriak-teriak menarik perhatian para jama’ah yang baru keluar dari masjid untuk membeli barang dagangan mereka.