Pages

Sebuah Catatan di Penghujung April

Minggu
Sesaat setelah kututupi Mushaf Al-Quran, tiba-tiba pikiranku terbang jauh ke Masjid Baitusshalihin Ulee Kareng. Masjid ini sekarang masih dalam tahap renovasi. Masjid tempatku mulai secara resmi belajar mengaji Al-Quran sejak aku kelas 1 MI. Masjid ini juga menjadi saksi tatkala aku ditasyakur sebagai wisudawan Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) tahun 2003 kalau tak salah. Sebenarnya ketika itu aku berniat melanjutkan pengajianku ke tahap yang lebih tinggi yaitu, Ta’limul Quran Lil Aulad (TQA), tapi karena pada akhir tahun 2004 aku bersama keluarga harus meninggalkan Aceh untuk sementara waktu, menemani ayah di negeri jiran yang sedang menyelesaikan kuliah S3-nya. Niat itu pun pupus di tengah jalan.

          Banyak pengalaman yang aku dapati sewaktu mengaji di masjid tersebut, mulai dari Ustazah Marhamah yang memberitahuku bahwa harus me’niat’kan wudhu saat mulai membasuh wajah sampai saat dimana aku harus berulang kali mengulang bacaan hafalan surat Al-Ikhlas di depan Ust. Daniala, S.Ag ketika ujian kenaikan tingkat. Tapi, sampai sekarang aku belum mengerti tentang kesalahan-kesalahan bacaan yang dimaksud oleh Ust Danil pada surat Al-Ikhlas tersebut. 


          Sekembaliku dari Malaysia pada juli 2006, aku mulai merapat lagi ke masjid ini, namun sekarang bukan sebagai santri lagi. Melainkan sebagai seorang Abang yang mengantar-jemput adik-adiknya untuk mengaji. Tahun 2007, aku mulai menjajaki bangku Mts. Meskipun aku tak mengaji lagi di masjid tersebut, acara-acara pengajian kitab, ceramah-ceramah keagamaan, tasyakuran para jama’ah masjid, dan lain sebagainya sering kuikuti bersama ayah. 

          Akan tetapi pada tahun 2010, karena aku sudah mulai belajar di Dayah MA Ruhul Islam Anak Bangsa, otomatis aku harus tinggal di asrama.Nah, Hal tersebut memisahkanku dengan masjid Baitushalihin tercinta itu untuk 3 tahun lamanya. Ketika tamat dari Dayah tsb, sembariku menunggu ke jenjang kuliah (tak kusangka sekarang aku di maroko, Alhamdulillah), ku sempatkan waktuku di sela-sela kesibukan kecil mengurus pendaftaran dan berbagai testing masuk kuliah untuk mengikuti rangkaian kegiatan yang diadakan di masjid tersebut.  Sebagian dari rangkaian kegiatan tersebut adalah pengajian maa bainal maghrib wal ‘isya.

          Mulai dari pengajian setiap malam selasa yang diisi oleh Ust. H. Azanul Fajri, S.Hi, yang mengupas sekitar bahaya dan kesesatan aliran Syi’ah dilengkapi berbagai trik meng-counternya. Selanjutnya, malam rabu, diisi oleh Ust. Fakhrudin Lahmudin, S.Ag, MA, biasanya beliau menyajikan pembahasan fiqh ibadah aliran As-Syafi’i. Sedikit tentang backgroundnya, Beliau berasal dari Lubuk, Aceh Besar. Konon, katanya beliau bisa menjadi da’i kondang se-Aceh berkat dari pengalamannya yang sering menjadi komentator pertandingan bola kaki di kampungnya ketika remaja dulu. Malam Kamis ada Ust. Mizaj Iskandar, Lc, MA, Beliau membahas fiqh ibadah juga, tetapi dengan konteks yang lebih kontemporer dan dalam bingkai 4 mazhab. Beliau sendiri alumni Mesir dan Sudan. Yang terakhir malam minggu diisi oleh DR. H. Fauzi Saleh, Lc, MA. Beliau sekarang menjabat sebagai Wakil Dekan I Fakultas Usuluddin UIN Ar-Raniry Aceh. Beliau mengisi pengajian tafsir tematik yang mengarah ke fiqh dalam realitas masyarakat.

          Awal-awal tahun 2013, ada satu kegiatan menarik yang dirintis oleh para anggota jama’ah shalat subuh BBC Masjid Raya Baiturrahman yaitu Safari Subuh Minggu yang diprakarsai oleh Ust. Fakhrudin, dkk. Sempat saya ikuti beberapa kali dengan ayah saya, Abi.


          Akhirnya, pada september 2013, saya diterima di salah satu perguruan tinggi di negeri seribu benteng, Maroko. Saya berangkat tanpa tahu pasti kapan harus kembali untuk bersua lagi dengan masjid itu. saya tak tahu berapa lama kurun waktu saya merindukannya. Mungkin wajahnya telah tertukar bila saya kembali nanti. Amiin.


Masjid Baitusshalihin Ulee Kareng sedang direnovasi, 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar