Pages

Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Sebuah Catatan di Penghujung April

Minggu
Sesaat setelah kututupi Mushaf Al-Quran, tiba-tiba pikiranku terbang jauh ke Masjid Baitusshalihin Ulee Kareng. Masjid ini sekarang masih dalam tahap renovasi. Masjid tempatku mulai secara resmi belajar mengaji Al-Quran sejak aku kelas 1 MI. Masjid ini juga menjadi saksi tatkala aku ditasyakur sebagai wisudawan Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) tahun 2003 kalau tak salah. Sebenarnya ketika itu aku berniat melanjutkan pengajianku ke tahap yang lebih tinggi yaitu, Ta’limul Quran Lil Aulad (TQA), tapi karena pada akhir tahun 2004 aku bersama keluarga harus meninggalkan Aceh untuk sementara waktu, menemani ayah di negeri jiran yang sedang menyelesaikan kuliah S3-nya. Niat itu pun pupus di tengah jalan.

          Banyak pengalaman yang aku dapati sewaktu mengaji di masjid tersebut, mulai dari Ustazah Marhamah yang memberitahuku bahwa harus me’niat’kan wudhu saat mulai membasuh wajah sampai saat dimana aku harus berulang kali mengulang bacaan hafalan surat Al-Ikhlas di depan Ust. Daniala, S.Ag ketika ujian kenaikan tingkat. Tapi, sampai sekarang aku belum mengerti tentang kesalahan-kesalahan bacaan yang dimaksud oleh Ust Danil pada surat Al-Ikhlas tersebut. 

Read more ...

Kayanya Buah-Buahan di Maroko

Minggu
Maroko, adalah  negara yang tergolong memiliki tanah dan pertanian tersubur di benua Afrika. Padahal yang terbayang di benak pikiran saya sebelum berangkat ke sini setahun yang lalu, Maroko adalah negara yang penuh dengan padang pasir, tandus, kering, dan orang-orangnya berkulit hitam seperti negara-negara di benua Afrika lainnya, seperti Mauritania, Mali, Gabon, Niger dll. Nah, Bayangan saya tersebut bertolak-belakang 90 derajat dengan kenyataan yang saya dapati di sini. Faktanya, Pertanian dan perkebunan benar-benar kehijau-hijauan dan subur hampir seperti di Indonesia dan orang-orangnya berkulit putih, percampuran Arab dan Eropa. 

Di tulisan ini, saya ingin mengulas ketertarikan saya pada negeri yang dikenal dengan sebutan “seribu benteng” ini dari sisi suburnya tanah pertanian, terutama buah-buahan. Berbagai jenis buah-buahan dijual dengan harga obral di tempat-tempat umum, seperti pasar, pinggiran jalan, di halaman masjid. Variasi buah-buahan tersebut tergantung kepada Musim. Khususnya pada musim panas ini, mulai dari buah Dellah (melon kuning), Bettih (Semangka), Bnan (Pisang), Mesymmesh (Sejenis buah apel dari kulit luar, tapi isi dalamnya mirip mangga), Hablul Muluk (Cherry), ‘Ainab aswad au akhzor ( Anggur Hitam atau Hijau), Barkhouckh ( buah khas ada Maroko yang berwarna merah gelap, merah kekuning-kuningan atau Oren). Khusus pada musim dingin ada jeruk (Burtuqal), strawberry (fraise), apel (tuffah), Untuk apel warnanya bervariasi, mulai dari hijau, kuning, orange, merah. Harga – harganyanya sangat murah.  Untuk jeruk harganya bisa turun sangat drastis hingga 2 dh / kg (3 ribuan), Strawberry bisa begitu murah juga dengan harga terendahnya sekitar 4 dh / kg (6 ribuan), dan Apel bervariasi harganya sesuai warna dan kualitas. Harganya terendah bisa jadi sekitar 5 dh / kg (7 ribuan). Disebabkan maroko memiliki 2 bahasa resmi yaitu arab dan prancis, maka tak begitu heran jika hal tersebut berdampak pada penamaan buah-buahan di maroko ini sendiri.

Read more ...