Berumur 74 tahun justru tidak
menghalangi langkah seorang Duta Besar Republik Indonesia untuk kerajaan Maroko,
H. Tosari Widjaja, untuk pertama kalinya mengukir sejarah baru dengan meraih
penghargaan tertinggi dari Kerajaan Maroko. Tepatnya hari jum’at lalu, 17
Oktober 2014. Penghargaan berupa BINTANG GRAND CORDON AL WISSAM AL ALAOUI tertinggi tersebut disematkan langsung oleh
Raja Maroko sekarang ini, HIS MAJESTY KING MOHAMMED VI kepada H. Tosari Widjaja
di hadapan para pejabat-pejabat kerajaan dan para duta besar undangan dari
negara-negara lain. Ajang bergengsi tersebut disiarkan oleh channel TV 2M
Maroc. Kepribadian bapak berkelahiran Probolinggo ini yang begitu gigih, ulet,
kerja keras dan Ikhlas bersama “DREAM TEAM”nya Para Home/local Staff dan
segenap pegawai yang bekerja di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Rabat
dalam menjalankan tugas dan mengemban amanah negara menjadikannya sosok yang
pantas untuk menerima penghargaan bergengsi tersebut. Anugerah Penghargaan
tersebut sekaligus merupakan hadiah di penghujung masa jabatannya ini.
Menurut salah seorang Pegawai
Home Staff KBRI Rabat, alasan dianugerahkan Bintang tersebut, adalah karena
besarnya sumbangsih dan banyaknya kerjasama yang telah dibangun dalam
mempererat hubungan bilateral Republik Indonesia – Kerajaan Maroko semenjak
kedatangan beliau pada tahun 2010. Kerjasama yang dibangun meliputi aspek pendidikan,
politik, ekonomi, dan sosial budaya yang dikemas rapi dalam paket Promosi
Indonesia di hadapan masyarakat Maroko. Misalnya, kerjasama dalam bidang
pendidikan, ada beberapa perguruan tinggi islam di Indonesia seperti UIN Sultan
Syarif Kasim RIAU, IAIN Semarang, STAIN Pekalongan, dan sebagainya telah
menjalin kerjasama dengan beberapa universitas di Maroko, seperti University of
Sidi Mohammed Ben Abdellah di Kota Fes, University Of Cadi Ayyad di Marrakesh,
dan Jami’ah Al-Qurawiyyin di Fes yang disebut-sebut sebagai kampus islam tertua
di dunia sebelum Jami’ah Al-Azhar di Mesir. Kerjasama-kerjasama tersebut
difokuskan dalam bidang penelitian, pertukaran antar dosen serta mahasiswa,
Comparative study of campus life (Studi banding kehidupan kampus), dan
sebagainya.
Nah, Ada hal menarik yang
terjadi di Faculte des Lettres et des Sciences Humaines, Universite Mohammed V
– Agdal, tempat penulis kuliah, yaitu selama 2 tahun terakhir ini, dibukanya
mata kuliah Bahasa Indonesia dalam kategori bahasa asing pada mahasiswa
semester 5. Dosen Pembimbing mata kuliah tersebut didatangkan 2 orang per tahun
dari Indonesia secara berkesinambungan. Minat sebagian mahasiswa maroko tumbuh
untuk belajar bahasa indonesia karena kecintaan meraka pada Indonesia yang
disebabkan oleh paradigma masyarakat Maroko terhadap negara kita, “Indonesia
negara berpopulasi penduduk muslim terbesar di dunia”, “Rakyat Indonesia
umumnya berakhlak mulia (refleksi karena mulianya akhlak rakyat muslim
indonesia saat pelaksanaan ibadah haji)” dan lain-lain.
Tak
ketinggalan, di bidang ekonomi beberapa produk Indonesia sudah mulai merambah
pasar perdagangan Maroko, contohnya sebut saja Indomie, hampir di semua toko
kelontong atau kios-kios kecil, menyediakan produk indomie dengan cita rasa
yang juga bervariasi. Biasanya produk ini diimpor dari distributor-distributor
perwakilan pabrik Indomie yang ada di Arab saudi.
H. Tosari Widjaja sudah tak asing lagi dengan dunia
diplomasi. Sebelum menjabat Dubes RI di Maroko, Beliau pernah menjadi wakil
ketua DPR-RI dan mantan sekjen DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Selain
itu, Beliau juga aktif mengajar pada
berbagai institusi pendidikan tinggi, baik di Indonesia maupun di mancanegara
dan salah satu tokoh nasional di bidang ketenagakerjaan, pertanian, kepemudaan
serta menulis buku “Karir Politik Anak Desa-Sebuah Otobiografi & quot”.
Pribadi yang begitu
sederhana, tidak terlalu protokoler, dan begitu akrab serta hangat dengan masyarakat
Indonesia yang ada di Maroko, terutama dengan teman-teman Mahasiswa/i
Perhimpunan Pelajar Indonesia di Maroko, menjadikannya dianggap sebagai sosok
“Ayah Ke-2” di hati para muda-mudi Indonesia yang sedang menimba ilmu di negeri
seribu benteng tersebut.

bagus infonya :)
BalasHapus