Sesaat setelah kututupi Mushaf Al-Quran, tiba-tiba pikiranku
terbang jauh ke Masjid Baitusshalihin Ulee Kareng. Masjid ini sekarang masih
dalam tahap renovasi. Masjid tempatku mulai secara resmi belajar mengaji
Al-Quran sejak aku kelas 1 MI. Masjid ini juga menjadi saksi tatkala aku
ditasyakur sebagai wisudawan Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) tahun 2003 kalau
tak salah. Sebenarnya ketika itu aku berniat melanjutkan pengajianku ke tahap
yang lebih tinggi yaitu, Ta’limul Quran Lil Aulad (TQA), tapi karena pada akhir
tahun 2004 aku bersama keluarga harus meninggalkan Aceh untuk sementara waktu,
menemani ayah di negeri jiran yang sedang menyelesaikan kuliah S3-nya. Niat itu
pun pupus di tengah jalan.
Banyak pengalaman
yang aku dapati sewaktu mengaji di masjid tersebut, mulai dari Ustazah Marhamah
yang memberitahuku bahwa harus me’niat’kan wudhu saat mulai membasuh wajah
sampai saat dimana aku harus berulang kali mengulang bacaan hafalan surat
Al-Ikhlas di depan Ust. Daniala, S.Ag ketika ujian kenaikan tingkat. Tapi,
sampai sekarang aku belum mengerti tentang kesalahan-kesalahan bacaan yang dimaksud
oleh Ust Danil pada surat Al-Ikhlas tersebut.