Pages

Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Sebuah Catatan di Penghujung April

Minggu
Sesaat setelah kututupi Mushaf Al-Quran, tiba-tiba pikiranku terbang jauh ke Masjid Baitusshalihin Ulee Kareng. Masjid ini sekarang masih dalam tahap renovasi. Masjid tempatku mulai secara resmi belajar mengaji Al-Quran sejak aku kelas 1 MI. Masjid ini juga menjadi saksi tatkala aku ditasyakur sebagai wisudawan Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) tahun 2003 kalau tak salah. Sebenarnya ketika itu aku berniat melanjutkan pengajianku ke tahap yang lebih tinggi yaitu, Ta’limul Quran Lil Aulad (TQA), tapi karena pada akhir tahun 2004 aku bersama keluarga harus meninggalkan Aceh untuk sementara waktu, menemani ayah di negeri jiran yang sedang menyelesaikan kuliah S3-nya. Niat itu pun pupus di tengah jalan.

          Banyak pengalaman yang aku dapati sewaktu mengaji di masjid tersebut, mulai dari Ustazah Marhamah yang memberitahuku bahwa harus me’niat’kan wudhu saat mulai membasuh wajah sampai saat dimana aku harus berulang kali mengulang bacaan hafalan surat Al-Ikhlas di depan Ust. Daniala, S.Ag ketika ujian kenaikan tingkat. Tapi, sampai sekarang aku belum mengerti tentang kesalahan-kesalahan bacaan yang dimaksud oleh Ust Danil pada surat Al-Ikhlas tersebut. 

Read more ...

Di Persimpangan Jalan menuju Kampus

Minggu

Pagi itu cahaya matahari berhasil menembus ventilasi jendela sebuah rumah di kawasan Camra. Namun, gang-gang kecil di sekeliling rumah itu masih basah dan berair akibat hujan di malam harinya. Rumah itu telah ditempati selama 4 bulan lebih oleh beberapa Mahasiswa asal Indonesia. Salah satu dari mereka bernama Faris. Ia keluar dari rumahnya dengan tenang dan santai. Cuaca di luar masih dingin, padahal matahari telah memperlihatkan diri seutuhnya. Faris ialah seorang mahasiswa jurusan Dirasat Islamiyah di Universite Mohammed V – Agdal. Tak terasa, beberapa hari lagi genap setengah tahun sudah dia menuntut ilmu di negeri seribu benteng, Maroko. Negeri yang dulu tak pernah terbersit di dalam benak pikirannya. Kampusnya terletak di Madinat al-‘irfane, yang bisa dicapai hanya dengan berjalan kaki dari rumahnya selama sepertiga jam.
  

Setelah berjalan beberapa belas langkah di gang depan rumahnya, dia pun berbelok ke kanan.Tepat 20 meter di depannya, ada sebuah masjid tempat biasanya dia melaksanakan perintah Allah 5 kali sehari, Masjid Sidi ‘Ilal ibn Ahsayin namanya. ukurannya sedang, warnanya putih, atapnya berbentuk persegi dan  berwarna hijau tua serta ada menara khas Maroko berwarna krem kecoklat-coklatan di bagian pojok bangunannya. Setiap habis shalat berjamaa’ah, di depan pintu masjid biasanya sudah berdiri para pengemis, 2 atau 3 orang jumlahnya, tak jarang dari mereka ada yang mengendong anak kecil. Kata sebagian ahli jama’ah masjid, di antara para pengemis itu, ada yang berpura-pura tidak mampu dan ada juga yang benar-benar membutuhkan bantuan. Para Penjual buah-buahan dengan harga murah seperti buah jeruk, apel, kurma, avokad juga berjejeran berteriak-teriak menarik perhatian para jama’ah yang baru keluar dari masjid untuk membeli barang dagangan mereka. 

Read more ...